Loading...
Author : admin

Banyak dari kita, sebagai orang tua merasa kesulitan dalam mendidik anak. Tidak jarang orang tua merasa jengkel, kemudian mencari solusi instan dengan mencari guru les atau menambah porsi waktu belajar atau mungkin mencari sekolah yang terbaik agar anak mendapatkan pembelajaran yang terbaik pula.

Bukan hal yang keliru dari apa yang orang tua lakukan tersebut. Bahkan, cara-cara tersebut bisa menjadi sarana penunjang agar mendapatkan hasil maksimal. Namun, kadang banyak dari kita yang lupa kalau anak tidak hanya butuh sarana belajar terbaik, tetapi juga membutuhkan contoh bagaimana ilmu tersebut diterapkan. Walaupun, guru di sekolah selalu mengajarkan berbagai ilmu yang dibutuhkan, tetapi sebenarnya orang tua juga berpengaruh besar dalam keberhasilan belajar anak.

Anak tidak akan menyerap secara maksimal ilmu yang didapat kalau hanya mengandalkan guru di sekolah saja. Orang tua juga harus mendampingi serta memberikan contoh bagaimana ilmu tersebut diterapkan.

Sebagaimana para ulama mengatakan, “Salah satu adab dalam menuntut ilmu adalah dengan duduk mendatangi majelis secara langsung.”

Hikmah dari adab tersebut adalah selain mengambil ilmu dari yang disampaikan para ulama atau asatidz, kita juga bisa belajar secara langsung bagaimana ulama atau asatidz  tersebut menerapkan ilmunya, bagaimana akhlaknya, bagaimana adabnya, dan lain sebagainya. Kita bisa mencontohnya secara langsung sesuatu yang tidak bisa didapatkan kecuali dengan mendatangi majelis secara langsung.

Begitu pun, cara kita dalam mendidik anak juga perlu diberi contoh. Bagaimana ilmu tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, contohnya, ketika kita menginginkan anak rajin shalat berjamaah di masjid. Tidak ada cara yang lebih ampuh kecuali dengan kita memberi contoh harus shalat berjamaah di masjid. Hal yang sering  kita jumpai adalah sebagai orangtua menyuruh anaknya shalat berjamaah di masjiid, tetapi kita tidak melakukannya. Tentu hal tersebut akan mempengaruhi keberhasilan dalam mendidik anak.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

 

Dalam ayat tersebut, kita melihat bagaimana Luqman mengajarkan tauhid kepada anaknya secara langsung dengan perkataan yang lembut dan secara langsung. Tentunya dia mengajarkannya dengan penuh keyakinan. Apa yang tertanam pada dirinya yang secara tidak langsung anaknya melihat, bagaimana ayahnya menerapkan ajaran tauhid tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Suatu langkah yang bnaar, ketika kita memberikan sarana terbaik yang bisa kita lakukan untuk pembelajaran anak-anak kita. Namun, kita harus menyadari kalau selain hal tersebut ada faktor penentu yang tidak kalah penting sebagai penunjang keberhasilan dalam mendidik anak yaitu orang tua. Orang tua harus aktif dalam mendampingi dan mencontohkan secara langsung penerapan ilmu tersebut. Karena, madrasah pertama dan yang utama bagi anak kita adalah lingkungan keluarga. [MTs.F]