Di-era dengan berbagai kemudahan mendapatkan informasi ini, mendengar kata literasi tentu sudah tidak asing lagi . Meskipun demikian nyatanya masih saja ada kekeliruan dalam memaknai kata tersebut. Secara etimologi, istilah literasi berasal dari bahasa Latin, yaitu “Literatus” yang memiliki arti orang yang belajar. Adapun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) literasi diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca. Sementara UNESCO memberikan pemaknaan terhadap literasi yang lebih mendalam, yaitu sebagai kemampuan untuk mengindentifikasi, memahami, mengartikan, menciptakan, mengomunikasikan, menghitung, menggunakan materi tercetak dan tertulis yang tertuang dengan berbagai konteks. Berangkat melalui pemaknaan tersebut literasi tidak hanya diartikan sebagai suatu kegiatan membaca dan menulis saja, melainkan dengan cakupan yang lebih mendalam.
Penanaman budaya literasi memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan Indonesia menduduki urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat bacanya sangat rendah. Maka dari itu, pemerintah melalui Kemendikbud terus mendorong gerakan literasi sekolah sebagai bagian dari gerakan literasi nasional. Gerakan literasi sekolah adalah kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalaui berbagai aktivitas antara lain membaca, melihat, menyimak, dan atau berbicara. Dengan adanya program literasi ini diharapkan mampu membangkitkan minat membaca sejak dini.
Begitupula dengan MI Alam Islamic Center Ponorogo yang terus berupaya meningkatkan program literasi di sekolah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti peserta didik agar menjadi insan yang literat sepanjang hayat melalui ekosistem literasi yang dibangun dalam gerakan literasi sekolah. Gerakan yang bertujuan untuk menjadikan sekolah sebagai tempat untuk belajar.
Kegiatan literasi di MI Alam Islamic Center Ponorogo atau dikenal dengan sebutan Gempita Literasi (Gerakan Pecinta Literasi) dilakukan mulai dari kegiatan pembiasaaan sampai ke tahap pengembangan. Beberapa pembiasaan diantaranya:
Selain beberapa hal di atas, sekolah juga terus mendorong guru terus meningkatkan kemampuan literasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Misalnya dengan meminta siswa becerita atau dengan menggunakan berbagai strategi, metode, maupun media pembelajaran yang disesuaikan dengan materi maupun mata pelajaran. Gerakan literasi senantiasa disesuaikan dengan perkembangan serta karakteritik siswa dan dilakukan secara berkelanjutan, termasuk disertai dengan kegiatan kecakapan berkomunikasi secara lisan.
Menyadari bahwa budaya literasi tidak dapat muncul dalam waktu cepat, tetapi perlu proses dan berbagai upaya untuk membangun budaya literasi. Maka dari itulah MI Alam Islamic Center terus berupaya untuk membangun budaya literasi yang menggembirakan bagi anak untuk terwujudnya budaya literasi yang dapat menciptakan peradaban yang lebih maju dan berwawasan.
Salam literasi,
(Tri Setyoningsih)