Loading...
Author : TSN

Pendidikan dapat diartikan sebagai proses untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan serta kebiasaan yang akan digunakan menjadi warisan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Pendidikan juga bisa menjadi cara dalam upaya meningkatkan kecerdasan, budi pekerti, kepribadian, dan keterampilan yang akan bermanfaat  bagi diri sendiri dan orang lain disekitarnya. Ditegaskan dalam UU Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik supaya menjadi manusia yang beriman bertakwa kepada Tuhan Ynag Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam konteks yang lebih sempit pendidikan biasa dipahami sebagai sekolah. Sekolah merupakan tempat bagi siswa melakukan proses pembelajaran dengan tujuan mendapatkan pengetahuan dan memiliki pemahaman tentang sesuatu yang membuatnya menjadi seorang manuasia yang kritis dan kreatif.

Dijelaskan dalam undang-undang bahwa pembelajaran adalah proses interaktif pada diri siswa dan seluruh komponen pembelajaran, baik interaksi antar siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa, serta dengan masyarakat lainnya. Proses interaksi ini memiliki peran yang sangat penting dalam membantu tercapainya tujuan pembelajaran.

Namun dalam perjalanannya, justru terkadang interaksi ini tidak mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Sehingga dalam interaksi antara lawan jenis harus ada landasan yang sesuai dengan syariat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Keterbatasan ini seringkali tidak disadari oleh lembaga pendidikan yang perlu memberikan contoh yang baik kepada siswanya, terutama dalam pembentukan karakter. Maka, di MI Alam Islami Center Ponorogo dibentuklah manajemen kelas berbasis segresi gender atau pemisahan kelas berdasarkan jenis kelamin atau antara putra dan putri.

Program pemisahan kelas antara putra dan putri ini mulai diterapkan pada tahun 2023 untuk memberikan bimbingan akhlak kepada siswa sehingga diharapkan dapat membentuk pribadi yang berakhlakul kakrimah baik di dalam lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah sebagaimana visi sekolah yaitu terwujudnya generasi yang bertakwa, berprestasi, dan mandiri.

Terdapat beberapa faktor yang mendasari program pemisahan kelas ini diantaranya: pertama, evaluasi hasil pembelajaran sebelumnya, bahwa dengan kelas heterogen siswa kurang kondusif dalam kegiatan pembelajaran. Guru juga lebih sulit melakukan pembinaan terhadap siswa. Namun setelah pemisahan kelas dan kelas. Kedua, fakor eksternal yang mempengaruhi perkembangan siswa yaitu perkembangan teknologi yang semakin cepat yang membuat siswa sangat mudah mengakses informasi dengan cepat. Ketiga, sebagai upaya preventif untuk mencegah tindakan yang melanggar norma, serta yang paling utama adalah menjalankan syariat tentang bagaimana agama islam yang mulia ini mengatur sedemikian rupa, mulai dari cara berkomunikasi ata pun cara berinteraksi dengan lawan jenis.

Dalam penerapannya MI Alam Islamic Center memiliki beberapa metode untuk mensukseskan program tersebut dalam rangka membina sikap dan kepribadian serta akhlak siswa, mulai dari bersalaman dengan guru, bersikap sopan santun, disiplin mengikuti semua kegiatan sekolah, pembiasaan sholat duha dan sholat duhur, kegiatan keputraan dan keputrian. Kegiatan pemisahan tidak hanya dilakukan ketika pembelajaran melainkan juga pada kegiatan seperti sholat duha serta jam istirhat yang diterapkan secara bergantian antara putra dan putri. Bahkan pada pemisahan lantai kelas untuk kelas putra dan putri.

Dengan adanya program ini selain pengondisian kelas yang lebih mudah, juga berdampak terhadap kepercayaan diri siswa. Siswa akan lebih leluasa mengespresikan kemampuan dirinya tanpa rasa canggung dan malu sebab tidak ada hambatan lawan jeis yang memiliki karakter berbeda sehingga semangat belajar untuk meraih prestasi lebih meningkat. Dengan metode ini diharapkan siswa dapat menjaga pergaulan secara lebih islami dan dapat mengikuti pembelajaran dengan baik serta mencapai prestasi yang optimal.

(Tri Setyoningsih)