Loading...
Author : admin

Ponorogo (19/10/2021)–Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala yang tidak hanya dibekali jasad dan ruh. Namun, manusia dibekali oleh Allah dengan akal yang berperan sebagai pengendali di antara keduanya. Akal bertindak sebagai kendali yang pusatnya terletak di dalam hati. Mengapa bukan otak? Otak memang berfungsi sebagai kendali pola pikir secara logis, tetapi pada hakikatnya hatilah yang mengatur, menyusun orientasi arah berupa perasaan.

"Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)."

(HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)¹

Dari hadits di atas, jelas kiranya jika hati memiliki kekuatan dan andil yang besar dalam menentukan baik atau buruknya manusia. Tubuh manusia diibaratkan seperti sebuah kerajaan. Di mana, ada yang bertugas sebagai pemimpin atau raja, ada pula yang bertugas sebagai prajurit. Para ulama pun berpendapat kuat perihal ini, yang mana hati menjadi sosok raja di dalam tubuh, sedangkan anggota tubuh lain berperan menjadi prajuritnya.²

Hati tidak pernah diam, ia selalu menyuarakan titah pada setiap pergerakan anggota tubuh. Bahkan, hati pun mampu mengeluarkan keputusan melalui fatwanya. Hati merupakan jembatan penghubung antara manusia dengan Allah Subhanahu wa ta'ala. Pancaran kekuatan dari hati mampu menjadi perisai bagi manusia dari kejahatan nafsu yang buruk dan godaan syaitan.

Maka, di hati inilah iman manusia bertakhta. Dari hati ini pula, manusia bernilai karena pancaran ketakwaannya. Namun, tak jarang pula manusia yang terjatuh dalam lembah dosa karena hatinya. Seperti pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 284 yang artinya:

"Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."

Di SAIC (Sekolah Alam Islamic Center) Ponorogo memiliki 5 nilai penting dalam mengembangkan kurikulum belajar, yaitu; aqidah dikuatkan, ibadah dilatihkan, adab diterapkan, tahfizh dibiasakan, dan alam diakrabkan. Kelima nilai tersebut akan membentuk para santri dalam mencerdaskan hati. Di mana, ada tiga hal yang harus ada di dalam hati yang dapat menjadi indikator kecerdasan hati.

Pertama, hati dibelajarkan dalam menghadirkan niat tulus. Bersumber dari hadits Arba'in An-Nawawiyah urutan pertama memberikan penjelasan bahwa setiap amal perbuatan bergantung pada niatnya.³ Para santri diberikan arahan niat utama dalam belajar adalah untuk meraih ridha Allah Subhanahu wa ta'ala. Segala apa yang dikerjakan tentu akan mendapatkan balasan sesuai niat. Niat memiliki peran besar yaitu sebagai fondasi dari suatu keinginan. Niat pun berperan sebagai kunci pembeda dari suatu amalan.

Kedua, hati dibelajarkan untuk senantiasa berprasangka baik. Panca indra manusia menjadi reseptor dalam menangkap sensor hal apa saja yang terjadi di sekitarnya. Maka, hal itu akan menggiring suatu anggapan atau prasangka di dalam hati. Prasangka mampu memberikan energi umpan balik berupa sugesti. Jika energi yang ditimbulkan positif akan membentuk hasil yang positif, begitu pun sebaliknya. Santri senantiasa diingatkan, dilatih, dan dibiasakan untuk menjaga sikap dalam berinteraksi di lingkungan sekolah, baik terhadap guru dan juga terhadap teman-temannya.

Ketiga, hati dibelajarkan untuk menciptakan rasa cinta kasih. Keagungan rasa cinta kasih sudah tentu milik-Nya. Allah Subhanahu wa ta'ala dengan penuh cinta menciptakan jagad raya termasuk ada manusia yang menjadi salah satu makhluk penghuni di dalamnya. Allah mengutus Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam untuk menyampaikan risalah dalam ayat-ayat cinta-Nya sebagai petunjuk hidup bagi manusia agar selamat dalam pengembaraan di dunia sampai ke akhirat nantinya. Jelas sekali, bahwa Allah mengajarkan arti cinta yang hakiki. Allah pula yang wajib kita cintai di atas segalanya. Santri dilatihkan dalam peribadatan di sekolah seperti, menambah hafalan, murajaah hafalan Al-Qur'an, salat dhuha, salat wajib, dzikir setelah salat, maupun dalam mengaplikasikan mata pelajaran umum. Hal ini merupakan upaya melatih hati untuk membiasakan peka dalam mengingat Allah, untuk membiasakan menghadirkan rasa kecintaan terhadap agama Islam.

Mencerdaskan hati merupakan upaya pembelajaran yang harus terus dilakukan manusia. Belajar tentang kehidupan dengan bersumber pada Al-Qur'an dan Hadits akan memberikan penjaminan bagi manusia untuk memiliki hati yang cerdas.

Dengan belajar mencerdaskan hati, akan menjadi penyadaran bahwa manusia adalah makhluk istimewa dengan sumber kekuatan agung-Nya. Ar-Rahman, Ar-Rahim, yang menjadi deretan utama dari kesembilan puluh sembilan asma agung-Nya. Menjadikan "Bismillahirrahmannirrahim" sebagai kalimat utama dalam mengawali setiap tindakan manusia. Kalimat yang di dalamnya terhimpun pancaran kekuatan niat tulus, prasangka baik, dan cinta kasih yang menjadi pertanda kecerdasan hati, yang harus terus dinyalakan di dalam hati sampai jasad dan ruh tidak menyatu lagi. Wallahua'lam. [SHN]

__________________________

¹ https://rumaysho.com/3028-jika-hati-baik.html (diakses pada 19 Oktober 2021, pukul 23.34)

² Sekar Hidayatun Najakh, Pesona 3 (Tiga Hal yang Harus Ada di Dalam Hati). KMO Indonesia, Cirebon 2021. hlm: 148-149.

³ Imam Nawawi, Hadits Arba’in An-Nawawiyah. Media Insani Press, Surakarta 2007. hlm: 10-11.