Oleh: Ustadzah Tri Setyoningsih, S.Pd
“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS Al Mujadalah :11)
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Manusia akan menjadi manusia karena pendidikan. Dan untuk menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa diperlukan belajar. Ajaran-ajaran Allah berupa petunjuk yang harus dikerjakan dan larangan yang harus ditinggalkan, perlu disampaikan kepada siswa melalui proses pembelajaran.
Guru dan siswa adalah bagian tak terpisahkan dalam pendidikan. Peran dan fungsi siswa dan guru bukanlah sekedar diajar dan mengajar. Guru dan siswa sama-sama belajar sehingga muncullah proses pembelajaran yang ideal dan saling melengkapi.
Ketika guru mengajar siswa, sebenarnya guru juga sedang belajar dari siswa. Belajar kepolosan dan dunia anak yang ceria. Belajar cara mengajarkan sebuah metode belajar yang tepat. Menganalisa dan mengevaluasi. Belajar keunikan siswa. Menerima bahwa setiap siswa membawa mimpi, cita-cita hidup dan harapan masing-masing.
Guru merupakan fasilitator, orang yang berperan memudahkan para siswa belajar. Fasilitator sadar bahwa dia tidak tahu dan tidak bisa semuanya, tetapi tahu cara-cara dan sumber-sumber yang memudahkan para siswa belajar.
Guru adalah juga manusia biasa yang tentu tidak luput dari kesalahan.
Ketika guru menganggap dirinya selalu benar, tidak pernah salah, itu menggambarkan arogansi guru. Merasa tahu segala hal, merasa siswa adalah pribadi yang harus diberi pengetahuan karena tidak tahu apapun. Tugasnya menerima, siswa hanya boleh bertanya secukupnya dan dilarang mengoreksi atau beda pendapat dengan guru.
Padahal, siswa bukanlah gelas kosong sehingga guru yang dapat mengisi kekosongan itu, semua pengetahuan, sikap maupun keterampilan bergantung pada guru. Hal tersebut merupakan sesuatu yang berbahaya. Guru manusia biasa dan bisa salah. Guru bukan sumber belajar utama, bisa jadi murid lebih tahu dahulu tahu dan bisa mengerjakan sesuatu. Guru harus demokratis dengan tidak mengesampingkan adab-adab dalam belajar.
Hal itu juga berlaku dalam proses pembelajaran di SAIC Ponorogo, pendidik sadar bahwa pendidik adalah juga manusia biasa, memiliki banyak kekurangan dan juga perlu belajar dari orang lain, entah dari siswa, orangtua, rekan pendidik, serta masyarakat umum dan lainnya.
Pengetahuan diajarkan bukan dengan cara dipaksa “pokoknya gini, harus seperti ini”, akan tetapi pengetahuan diajarkan karena ia baik, membawa manfaat bagi kehidupan dan karena ia merupakan kebenaran. Kebenaran yang harus diketahui, dipahami manfaatnya dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan disampaikan dengan halus, dengan sabar, dan dengan hikmah.
Agar dalam pembelajaran bisa tercipta suasana kasih sayang, bukan sekedar gugur kewajiban. Proses pembelajaran berlangsung utuh guna internalisasi nilai yang diharapkan dapat terpatri. Dengan selalu membiasakan perhatian, sapaan, salam, saling senyum, mengasah empati dan simpati, membuka ruang diskusi, memberi stimulus untuk tetap produktif, adanya ruang konsultasi, dan interaksi sebagai kebutuhan afektif yang menghadirkan suasana ikatan batin antara guru dan siswa yang sangat dibutuhkan dalam kelangsungan penanaman nilai.
Sehingga terlahirlah hikmah, kemampuan untuk memahami hal tentang kehidupan untuk menjadikan manusia senantiasa dalam nikmat kesyukuran sehingga tidak ada kesombongan atas ilmu yang dimilikinya.
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. (QS Al-Maidah : 2)